Makalah
Pendidikan Pancasila
Lima Sila Untuk Kehidupan Yang Bernurani

Disusun Oleh :
Teddy surawan
TI-11
15.11.9218
TEKNIK INFORMATIKA
STMIK-AMIKOM YOGYAKARTA
2015
LIMA SILA DALAM SATU HATI
Sudah terbiasa telinga
kita mendengar orasi demi orasi para calon pemimpin rakyat berkokok mengobral
janji janji mereka seperti “Kami gratiskan sekolah”, “Kami gratiskan periksa
kesehatan”, “kami turunkan bbm”, dan lain lain.
Indah sekali
janji-janji mereka bak “surga” di tanah “neraka”. Seperti sudah menjadi budaya,
apapun yang mereka janjikan akan lenyap tiba-tiba ketika mereka sudah terpilih
menjadi wakil rakyat. Semua rakyat bisa menebak. Lalu apa yang diberikan kepada
rakyat-rakyat yang ditanggungnya? Hanya sepersekian persen dari “surga” yang
mereka janjikan dan sisanya adalah “neraka” yang mereka berikan.
Pancasila terdiri 5
sila yang saling berkaitan antara satu sila dengan sila yang lain. Tidak
percaya? Coba anda perhatikan illustrasi dibawah ini:
-
Orang
yang percaya akan ketuhanan, otomatis ia mempunyai rasa kemanusian.
-
Orang
yang mempunyai rasa kemanusiaan, otomatis ia memiliki rasa persatuan
-
Orang
yang mempunyai rasa persatuan, otomatis ia memiliki rasa untuk merakyat kepada
rakyat-rakyatnya
-
Orang
yang mempunyai rasa kerakyatan, otomatis ia memiliki rasa keadilan kepada semua
rakyatnya
-
Yang
terakhir, orang yang memiliki rasa keadilan otomatis dia adalah manusia
setengah dewa seperti lagunya bang Iwan Fals
Sebagai
bangsa yang berpegang kepada pancasila kita harus dapat mempercayai semua sila
yang ada pada tubuh Pancasila tanpa ada keraguan sedikitpun dalam diri kita
masing-masing. Rasulullah SAW dan Proklamator kita Soekarno saja memliki
kepercayaan tinggi dalam bersikap adil kepada semua istrinya. Itu contoh sederhana
dan nyeleneh, jangan dijadikan contoh kalau anda dan istri anda belum bisa
bersikap adil dan belum siap jadi korban keadilan anda.
Hubungan
antara pancasila dan filosofi 5 jari
Coba
anda hitung jari anda disalah satu tangan atau kaki anda, ada berapa? Ada 5
bukan? Lalu apa hubungan antara jari kita dengan pancasila? Sebenarnya tidak
ada, hanya saja dibuat-buat agar tulisan ini lebih menarik. Namun keduanya bisa
kita “paksakan” hubunganya. Maksudnya?
Pancasila
sama dengan jari jemari di tangan kita. Kok bisa? Ya karena dapat memegang,
menggenggam, memiliki rasa sensitifitas yang melahirkan rasa gotong royong,
kebersamaan, berbagi, dan cinta kepada sesama baik moril maupun materil.
Pancasila
dan Rukun Islam
Seperti
yang kita ketahui, Islam adalah agama dengan penganut terbesar di Negara
Kesatuan Republik Indonesia ini. Islam memiliki rukun islam yang berjumlah 5
rukun. Lalu apa hubunganya? Jelas ada. Rukun Islam adalah inti pedoman umat
islam dalam kehidupan beragama, sedangkan pancasila adalah pandangan hidup
bangsa indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika manusia sudah
mengamalkan Rukun Islam dengan baik maka dia dapat kita anggap sebagai manusia
½ dewa. Jika dari kita dapat mengamalkan pancasila dengan baik kita juga bisa
dianggap sebagai manisa ½ dewa juga. Lalu apa sebutan untuk yang mengamalkan
keduanya dengan sebaik-baiknya? Sebutan untuk yang dapat mengamalkan keduanya dengan
baik adalah Manusia Sempurna.
Harmoni
Pancasila
1. Sila
Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa
Setiap
manusia memiliki keyakinan terhadap Tuhan sesuai agama meraka,begitupun dengan
masyarakat Indonesia. Sila pertama dalam pancasila sama dengan rukun pertama
dalam rukun islam, “Syahadat” atau bersaksi serta mempercayai akan adanya
tuhan. Kenapa lebih mengedepankan islam dalam tulisan saya ini? Karena
mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut agama Islam, meskipun
yang dimaksud pancasila adalah ketuhanan secara universal yang dianut dari
berbagai macam agama di Indonesia. Meskipun berbeda, tetap saja semua meyakini
bahwa Tuhan adalah Esa.
2. Kemanusiaan
Yang Adil Dan Beradab
Seperti
yang disampaikan diawal tadi dan berkaitan dengan sub judul, setiap sila
pancasila memiliki hubungan yang terikat dengan sila lainya sehingga
menghasilkan suatu harmoni pancasila yang indah serta sempurna sebagai pedoman
bangsa. Manusia beragama, pasti menghargai nilai-nilai kemanusiaan dengan baik.
Mulai dari menjunjung tinggi agama sendiri, umat seagama serta senantiasa
menghargai penganut agama lain demi menciptakan tatanan masyarakat yang
harmonis dengan memanusiakan manusia, adil dan menjunjung tinggi etika dalam
kehidupan bermasyarakat.
3. Persatuan
Indonesia
Sila
ketiga ini tentu akan sangat mudah terwujud jika sila pertama dan kedua sudah
terpenuhi melekat dalam kehidupan bermasyarakat setiap masyarakat Indonesia.
Pada sila ini, pancasila diharapkan dapat menjaga keharmonisan dan kedamaian
dalam kehidupan bermasyarakat seperti Firman Allah dalam surat Ali Imronn 130 “Dan
berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai, dan ingetlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu
(masa jahilliah) saling bermusuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
menjadikan kamu karena nikmat Allah menjadi orang-orang yang bersaudara...”
4. Kerakyatan
Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan
Tidak
ada yang perlu diragukan dari Pancaila. Semua sila pancasila tak ada satupun
yang bertentangan dengan kitab atau dalil agama apapun. Sekalipun dalam hal
pengambilan keputusan, Pancasila mengajarkan untuk melakukan musyawarah untuk
menuju suatu kemufakatan begitupun dengan ajaran Islam, contohnya ketika
pergantian Khalfah, Piagam Madinah, Perluasan Wilayah Dakwah Islam, dan lain
lain. Musyawarah sudah ada sejak zaman Rosulullah. Dalam kutipan terjemahan
surat Asy-Syura pun Allah berfirman “.....sedang uruan mereka (diputuskan)
dengan musyawarah antara mereka.”. Dengan demikian, tidak ada bukti
yang menunjukkan Pancasila bertentangan dengan ajaran Islam.
5. Keadilan
Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sila
kelima ini adalah sila terakhir pada pancasila, akan mudah terwujud jika
ke-empat sila sebelumnya sudah terpenehi dengan baik maka akan terwujudnya
suatu tatanan bangsa yang menegakkan segala sesuatu atas dasar keadilan.
Keadilan memang sulit ditegakkan karena keadilan yang sesungguhnya hanya
dimiliki Allah SWT, namun setidaknya sebagai masyarakat yang baik khususnya
bagi pemerintah yang baik hendaknya bersikap adil kepada rakyatnya atau semua
orang disekitarnya demi terjaganya rasa harmonis dan perdamaian dalam kehidupan
bernegara.
Lalu
apa yang harus kita lakukan?
Pertanyaan diatas bukanlah
pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Sesungguhnya banyak hal yang bisa
dilakukan untuk mengamalkan pancasila, dan seperti yang Ibu Ainun Habibie
katakan “Banyak cara untuk mencintai negeri ini”. Minimal dengan niat untuk
menjadi warga negara yang baik dan berpegang teguh kepada Pancasila dalam
kehidupan bernegara..
Apa
sih akar pemikiran Pendidikan Pancasila?
Pendidikan Pancasila adalah
bagian dari MPK (Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian) sebagai mata kuliah
wajib di Perguruan Tinggi yang bertujuan untuk membentuk sikap mental dan
jatidiri.
Landasan Pendidikan Pancasila sendiri ada 5, antara lain:
1. Landasan Filosofis, berlandaskan
pembangunan semangat bersama
2. Landasan Historis, berlandaskan
atas dasar nilai-nilai perjuangan dan kesetiaan terhadap NKRI
3. Landasan Sosiologis,
berlandaskan lintas budaya dan demokrasi
4. Landasan Yuridis, berlandaskan
rasa kebangsaan dan cinta tanah air
5. Landasan Teori, berlandaskan
pribadi yang bertanggung jawab, menanam rasa pembangunan, dan nilai-nilai pendidikan
KAJIAN
ILMIAH-FILSAFATI PENDIDIKAN PANCASILA
1. Pendekatan Ilmiah-filsafati
dalam Pendidikan Pancasila
Pendekatan
ilmiah mengandaikan adanya disiplin ilmu sebagai landasannya.
2. Macam-macam Ilmu Pengetahuan a.
Klasifikasi Ilmu Pengetahuan
–
Ilmu-ilmu alam (Natural Sciences)
–
Ilmu-ilmu sosial (Social Sciences)
–
Ilmu-ilmu kemanusiaan/humaniora (The Humanities)
b.
Filsafat sebagai Ilmu Kritis
Filsafat adalah ciri
berpikir manusia yang bersifat radikal, sistematis dan universal. Filsafat
berciri radikal karena hal yang dibicarakan diupayakan tuntas ke akar
permasalahan sampai kepada hakekatnya. Filsafat berciri sistematis
artinya berpikir secara logis selangkah demi selangkah
dan menunjukkan hu dandamenunjukan hubungan
yang utuh dan saling berkaitan satu sama lain. Filsafat
berciri universal dimaksudkan karena filsafat memandang persoalan secara umum,
menyeluruh, tidak terikat ruang dan waktu.
Pancasila merupakan
konsep adaptif filsafat Barat. Hal ini merujuk pidato Sukarno di BPUPKI dan banyak
pendiri bangsa merupakan alumni Universitas di Eropa, dimana filsafat barat
merupakan salah satu materi kuliah mereka. Pancasila terinspirasi konsep
humanisme, rasionalisme, universalisme, sosiodemokrasi, sosialisme Jerman,
demokrasi parlementer, dan nasionalisme.
Arti Pancasila
Yang Sebenarnya
Pancasila bukan
hanya sekedar rangkaian kata-kata yang diucap pembina upacara dan diikuti
peserta upacara setiap hari senin. Pancasila tidak hanya tentang sila pertama
sampai sila kelima. Pancasila artinya lima dasar atau lima asas yaitu nama dari
dasar negara kita, Negara Republik Indonesia. Istilah Pancasila telah dikenal
sejak zaman Majapahit pada abad XIV yang terdapat dalam buku Nagara Kertagama
karangan Prapanca dan buku Sutasoma karangan Tantular, dalam buku Sutasoma ini,
selain mempunyai arti “Berbatu sendi yang lima” (dari bahasa Sangsekerta)
Pancasila juga mempunyai arti “Pelaksanaan kesusilaan yang lima” (Pancasila
Krama), yaitu sebagai berikut:
Pancasila sebagai
dasar negara Republik Indonesia ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945.
sebagai dasar negara maka nilai-nilai kehidupan bernegara dan pemerintahan
sejak saat itu haruslah berdasarkan pada Pancasila, namun berdasrkan kenyataan,
nilai-nilai yang ada dalam Pancasila tersebut telah dipraktikan oleh nenek
moyang bangsa Indonesia dan kita teruskan sampai sekarang.
Rumusan Pancasila yang
dijadikan dasar negara Indonesia seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945
adalah:
1.
Ketuhanan
Yang Maha Esa
2.
Kemanusiaan
yang adil dan beradab
3.
Persatuan
Indonesia
4.
Kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan
5.
Keadilan
sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia
Kelima sila tersebut
sebagai satu kesatuan nilai kehidupan masyarakat Indonesia oleh Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dijadikan Dasar Negara Indonesia.
Dalam pengertian
ini, Pancasila disebut juga way of life, weltanschaung, wereldbeschouwing,
wereld en levens beschouwing, pandangan dunia, pandangan hidup, pegangan hidup
dan petunjuk hidup. Artinya, bahwa semua tingkah laku dan tindakn pembuatan
setiap manusia Indonesia harus dijiwai dan merupakan pencatatan dari semua sila
Pancasila. Hal ini karena Pancasila Weltanschauung merupakan suatu kesatuan,
tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain, keseluruhan sila dalam Pancasila
merupakan satu kesatuan organis.
Asal muasal kata
Pancasila
Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta
India (kasta brahmana). sedangkan menurut Muh Yamin, dalam bahasa sansekerta ,
memiliki dua macam arti secara leksikal yaitu : panca : yang artinya lima,
syila : vokal i pendek, yang artinya batu sendi, alas, atau dasar. Syiila vokal
i panjang artinya peraturan tingkah laku yang baik atau penting.
Kata-kata tersebut kemudian dalam bahasa
indonesia terutama bahasa jawa diartikan “susila” yang memiliki hubungan dengan
moralitas. oleh karena itu secara etimologi kata “pancasila” yang dimaksud
adalah istilah “pancasyila” dengan vokal i yang memiliki makna leksikal
“berbatu sendi lima” atau secara harfiah “dasar yang memiliki lima unsur”.
Dalam buku Sutasoma, terdapat istilah “Pancasila Krama”, yaitu Lima
dasar tingkah laku atau perintah kesusilaan. Dalam kitab itu terdapat 5
larangan yakni:
1.
Panatipada
veramani sikhapadam samadiyani, artinya “jangan mencabut nyawa makhlum hidup”
atau dilarang membunuh.
2.
Dinna
dana veramani shikapadam samadiyani, artinya “jangan mengambil barang yang
tidak diberikan.” maksudnya dilarang mencuri.
3.
Kameshu
micchacara veramani shikapadam samadiyani, artinya jangan berbuat zina.
4.
Musawada
veramani shikapadam samadiyani, artinya jangan berkata bohong atau dilarang
berdusta.
5.
Sura
merayu masjja pamada tikana veramani, artinya janganlah minum-minuman yang
memabukkan.
Nilai-nilai Pancasila secara
intrinsik bersifat filosofis, dan di dalam kehidupan masyarakat indonesia nilai
Pancasila secara praktis merupakan filsafat hidup (pandangan hidup) bahkan
sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu dan Budha.
Hubungan antara
Pancasila dengan Hak Asasi Manusia
HAM atau Hak Asasi Manusia adalah sesuatu yang telah
diberikan Tuhan sejak lahir hingga meninggal dunia yang berkaitan dengan
keadilan. Ideologi negara kita bersifat fleksibel, yang artinya akan berlaku di
setiap waktu dan kondisi. Pancasila mengandung beberapa makna yang berkaitan
dengan HAM.
Sila
Ke-1
: Ketuhanan yang maha esa.
Semua individu
memiliki hak dalam beragama tanpa paksaan.
Sila Ke-2
: Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Semua individu memiliki hak
untuk diadili secara adil dan merata.
Sila Ke-3
: Persatuan Indonesia.
Semua individu memiliki hak untuk
bersatu.
Sila
Ke-4 : Kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmad kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan.
Semua individu memiliki hak untuk menyampaikan pendapat.
Sila Ke-5
: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Seluruh
individu memiliki hak untuk diperlakukan secara adil tanpa memandang derajat.
PENUTUP
Dalam makalah ini, banyak hal yang masih
kurang untuk dituliskan agar lebih memahami pembaca tentang makna Pancasila.
Terlalu banyak makna yang dalam didalam arti Pancasila dan terlalu banyak
kekurangan para aparat negara serta masyarakat dalam memahami arti sebuah
ideologi Pancasila dalam kehidupan berpolitik, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Demikianlah makalah yang kami buat ini,
semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan para pembaca. Kami mohon maaf
apabila ada kesalahan ejaan dalam penulisan kata dan kalimat yang kurang jelas,
dimengerti, dan lugas. Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna,
kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang
makalah di atas dengan sumber - sumber yang lebih banyak yang tentunga dapat di
pertanggung jawabkan. Karena kami hanyalah manusia biasa yang tak luput dari
kesalahan Dan kami juga sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca
demi kesempurnaan makalah ini. Sekian penutup dari kami semoga dapat diterima
di hati dan kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
0 komentar:
Post a Comment